Kamis, 08 November 2018

Jiwa dan kematian

 Aku bercerita tentang kehampaanku, tentang kosong dan gelap penuh luka dan duka, tentang kelam yang menyelimuti pikiranku, tentang abu-abu mimpiku tentang abu-abu ingatanku.
 Semua asa telah pudar terkikis sayatan dan goresan luka, jadi untuk apa aku terus menggenggam harapan yang kian terberai untuk apa terus-menerus mengejar khayalan yang jauh tak tercapai sementara yang terdekat adalah kematian.
 Dia begitu indah namun semua orang mengapa menakutinya, membencinya, mengkhawatirkan dia datang, sementara dia terus-menerus berjalan berdampingan, tapi entah kenapa dia tidak datang padaku saat aku memintanya untuk membawa ruh ku, entah kenapa dia malah meninggalkanku ditepi jurang putus asa dan menyuruhku mencari kembali pijaran cahaya yang kian samar.
 Dan si nenek pun menjawab "Apa kau tidak mengerti dia meninggalkanmu didunia ini, karna dia ingin kau menemukan hidupmu dan ingin kau lari menjauhinya karna kau takut dia akan merampas hidup yang telah kau impikan"
 "Untuk apa? Semua itu tidak akan pernah terjadi, aku tak akan pernah menemukan jiwaku yg lama kembali, semua sudah percuma".
 Nada-nada malam yang kelam mengiringi mereka berdua dengan obrolan yang saling berkutat dengan ambisi dan nasihat yang tak masuk kedalam otak jiwa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar