Aku bercerita tentang kehampaanku, tentang kosong dan gelap penuh luka dan duka, tentang kelam yang menyelimuti pikiranku, tentang abu-abu mimpiku tentang abu-abu ingatanku.
Semua asa telah pudar terkikis sayatan dan goresan luka, jadi untuk apa aku terus menggenggam harapan yang kian terberai untuk apa terus-menerus mengejar khayalan yang jauh tak tercapai sementara yang terdekat adalah kematian.
Dia begitu indah namun semua orang mengapa menakutinya, membencinya, mengkhawatirkan dia datang, sementara dia terus-menerus berjalan berdampingan, tapi entah kenapa dia tidak datang padaku saat aku memintanya untuk membawa ruh ku, entah kenapa dia malah meninggalkanku ditepi jurang putus asa dan menyuruhku mencari kembali pijaran cahaya yang kian samar.
Dan si nenek pun menjawab "Apa kau tidak mengerti dia meninggalkanmu didunia ini, karna dia ingin kau menemukan hidupmu dan ingin kau lari menjauhinya karna kau takut dia akan merampas hidup yang telah kau impikan"
"Untuk apa? Semua itu tidak akan pernah terjadi, aku tak akan pernah menemukan jiwaku yg lama kembali, semua sudah percuma".
Nada-nada malam yang kelam mengiringi mereka berdua dengan obrolan yang saling berkutat dengan ambisi dan nasihat yang tak masuk kedalam otak jiwa.
Kamis, 08 November 2018
Senin, 21 Mei 2018
JIWA DAN KEMATIAN
Diatas kegaduhanya sendiri, seketika dia melihat cahaya api dari sebuah lampu semprong dan nenek tua yang berjalan sembari membawa sebuah kantong kresek hitam kearahnya.
Dan nenek itu bertanya!
"Apa yang sedang kau lakukan disini nak? Apa kau tahu kau telah mengganggu ruh yang damai disini"
"Kemarilah anak-anakku" nenek itu berteriak sembari melemparkan isi dalam kantong kresek hitamnya, seketika gerombolan para burung hantu itu menampakkan wujudnya dari balik daun-daun dan bayang.
"Oh ya, kau terlihat berantakan sekali nak! Kemari dan ikut aku dan lalu bereskan dirimu!
Jiwa hanya terpaku dan dia tak mengerti seakan tubuhnya tak berjalan sesuai dengan otaknya, seakan tubuhnya mengikuti apa yang di perintah nenek yang misterius itu, tapi sedikit dari otaknya menolak dan berkata "siapa nenek gila ini, yang datang tengah malam hanya untuk ke sebuah pemakaman dan sok akrab denganku"
Namun secara tiba-tiba nenek itu berkata seakan membaca pikirannya!
"Kau tidak usah tegang dan berpikir aku ini gila nak! Aku tahu kau sedang mencari kematianmu yang pergi kan"
"Bagaimana kau tahu nek?"
"Aku tahu karena dia yang memberitahuku, aku selalu bertemu dengannya ketika waktu seperti ini"
"Lalu kemana dia sekarang nek"
"Tidak tahu"
Jiwa terus bertanya terus menerus namun nenek itu diam dan hanya berfokus pada lorong kegelapan dengan cahaya dari api yang goyah redup tertiup angin
Dan nenek itu bertanya!
"Apa yang sedang kau lakukan disini nak? Apa kau tahu kau telah mengganggu ruh yang damai disini"
"Kemarilah anak-anakku" nenek itu berteriak sembari melemparkan isi dalam kantong kresek hitamnya, seketika gerombolan para burung hantu itu menampakkan wujudnya dari balik daun-daun dan bayang.
"Oh ya, kau terlihat berantakan sekali nak! Kemari dan ikut aku dan lalu bereskan dirimu!
Jiwa hanya terpaku dan dia tak mengerti seakan tubuhnya tak berjalan sesuai dengan otaknya, seakan tubuhnya mengikuti apa yang di perintah nenek yang misterius itu, tapi sedikit dari otaknya menolak dan berkata "siapa nenek gila ini, yang datang tengah malam hanya untuk ke sebuah pemakaman dan sok akrab denganku"
Namun secara tiba-tiba nenek itu berkata seakan membaca pikirannya!
"Kau tidak usah tegang dan berpikir aku ini gila nak! Aku tahu kau sedang mencari kematianmu yang pergi kan"
"Bagaimana kau tahu nek?"
"Aku tahu karena dia yang memberitahuku, aku selalu bertemu dengannya ketika waktu seperti ini"
"Lalu kemana dia sekarang nek"
"Tidak tahu"
Jiwa terus bertanya terus menerus namun nenek itu diam dan hanya berfokus pada lorong kegelapan dengan cahaya dari api yang goyah redup tertiup angin
Minggu, 20 Mei 2018
JIWA DAN KEMATIAN
Ditengah sebuah lahan pemakaman dibalik kegelapan para mata itu bersinar, mereka para burung hantu sialan mengawasiku di atas pohon beringin, asam bahkan diatas pohon kamboja yg tumbuh di atas makam.
Entah apa yang mereka awasi terhadapku, atau mungkin mereka sedang mengejekku yang sedang menunggu si kematian sialan yang telah menipuku dan meninggalkan aku dalam kehampaan ini, dia menyuruhku untuk kembali menemukan sebuah cahaya itu tapi nyatanya (cahaya itu) hanya kiasan hanya fatamorgana dalam sebuah lentera minyak.
Bahkan sesaat api dalam lentera itu membakar ku, dan kini aku kembali melihat gundah sang rembulan dengan awan pucat kelam yang mulai menutupi senyumnya, kini (dia) badai frustasiku datang kembali dan aku ucapkan lantang "selamat datang" kemarilah dekap aku dan hancurkan sisa tubuhku ini, jangan kau sisakan jangan kau ampuni biarkan dia (kematian) datang menyeretku detik ini
Aku terlanjur mencintai mu wahai kematian, aku tidak mengharapkam sebuah cinta lagi dari cahaya, dari bidadari yang menghiasi taman eden (itu) aku tahu mereka hanya ilusi yang kau buat untukku.
Jiwa terus menggerutu ditengah pemakaman yang hanya berteman kegelapan dan para burung hantu yang tidak mengerti apapun.
Entah apa yang mereka awasi terhadapku, atau mungkin mereka sedang mengejekku yang sedang menunggu si kematian sialan yang telah menipuku dan meninggalkan aku dalam kehampaan ini, dia menyuruhku untuk kembali menemukan sebuah cahaya itu tapi nyatanya (cahaya itu) hanya kiasan hanya fatamorgana dalam sebuah lentera minyak.
Bahkan sesaat api dalam lentera itu membakar ku, dan kini aku kembali melihat gundah sang rembulan dengan awan pucat kelam yang mulai menutupi senyumnya, kini (dia) badai frustasiku datang kembali dan aku ucapkan lantang "selamat datang" kemarilah dekap aku dan hancurkan sisa tubuhku ini, jangan kau sisakan jangan kau ampuni biarkan dia (kematian) datang menyeretku detik ini
Aku terlanjur mencintai mu wahai kematian, aku tidak mengharapkam sebuah cinta lagi dari cahaya, dari bidadari yang menghiasi taman eden (itu) aku tahu mereka hanya ilusi yang kau buat untukku.
Jiwa terus menggerutu ditengah pemakaman yang hanya berteman kegelapan dan para burung hantu yang tidak mengerti apapun.
Minggu, 18 Maret 2018
JIWA DAN KEMATIAN
Pagi ini aku terbangun dengan kepala pusing dan aku terbangun entah berada di hari apa, yang jelas sinar mentari terasa membakar mataku yang sayu ini, lalu aku beranjak hanya beberapa centimeter saja untuk duduk dan menyalakan sebatang rokok dan coba sedikit mengingat kenapa aku tidur di antara daun-daun dan rumput.
Aku bersandar di samping sebuah pohon dan melihat seutas tali yang menggantung, menggantung terikat siap untuk di pakai menggantung diri "Hal gila macam apa ini, baru saja aku terbangun dengan suasana seperti ini" aku pun sedikit menggerutu dengan ini.
Ah sial ternyata itu tali gantungan punya ku, gara-gara para ngengat sialan itu mereka menggagalkan bunuh diriku, aku harus mencari cara lain sepertinya untuk mendapatkan tiket kematian ku (pikir ku)
Lalu aku beranjak dan berjalan sambil mencari sebuah ide agar aku bisa memberi pesan undangan kepada si kematian keparat, namun ide itu selalu sirna hanya gara-gara binatang-binatang sialan itu selalu ada saja yang menggangu rencana ku.
Aku terus berjalan sampai di sebuah ladang bunga kamboja yang tumbuh di atas tanah merah, "Oh ini sungguh sangat indah, aku ingin mempunyai taman ini di atas kuburanku sendiri hingga malam hari para burung hantu itu bernyanyi dalam kegelapan dengan mata bersinar dari pantulan cahaya purnama dan berganti menjadi paduan suara gagak saat siang tiba mereka berterbangan dan bernyanyi dan beriringan bulu-bulu hitam yang jatuh melawan angin".
Obsesi mati ini sungguh liar sungguh nikmat dari pada harus membayangkan hidup berjalan bersama para pendusta di dunia, akhirat adalah tempat kejujuran sempurna dan tempat tujuan untuk istirahat atau untuk terus menjerit merengek di neraka.
Aku bersandar di samping sebuah pohon dan melihat seutas tali yang menggantung, menggantung terikat siap untuk di pakai menggantung diri "Hal gila macam apa ini, baru saja aku terbangun dengan suasana seperti ini" aku pun sedikit menggerutu dengan ini.
Ah sial ternyata itu tali gantungan punya ku, gara-gara para ngengat sialan itu mereka menggagalkan bunuh diriku, aku harus mencari cara lain sepertinya untuk mendapatkan tiket kematian ku (pikir ku)
Lalu aku beranjak dan berjalan sambil mencari sebuah ide agar aku bisa memberi pesan undangan kepada si kematian keparat, namun ide itu selalu sirna hanya gara-gara binatang-binatang sialan itu selalu ada saja yang menggangu rencana ku.
Aku terus berjalan sampai di sebuah ladang bunga kamboja yang tumbuh di atas tanah merah, "Oh ini sungguh sangat indah, aku ingin mempunyai taman ini di atas kuburanku sendiri hingga malam hari para burung hantu itu bernyanyi dalam kegelapan dengan mata bersinar dari pantulan cahaya purnama dan berganti menjadi paduan suara gagak saat siang tiba mereka berterbangan dan bernyanyi dan beriringan bulu-bulu hitam yang jatuh melawan angin".
Obsesi mati ini sungguh liar sungguh nikmat dari pada harus membayangkan hidup berjalan bersama para pendusta di dunia, akhirat adalah tempat kejujuran sempurna dan tempat tujuan untuk istirahat atau untuk terus menjerit merengek di neraka.
Selasa, 06 Maret 2018
Dunia indah
Dunia indah bertajuk
petaka
menghasut pikiran
tuk memuja, perbudakan moral
dan tirani
menjarah dari setiap
sudut yang membawa
kesengsaraan,
seruan ajal berbisik
memanggil membawa raga ke
neraka.
Terkutuk dalam hidup
yang sesat berteman para iblis
menyesatkan,
indah malaikat yg
terbunuh mereka tertawa dan
berpesta
di atas kesengsaraan, berkumpul dalam satu
legasi
berencana
menggulingkan tahta tuhan dari
singgasana surga.
Menerima wahyu suci
sampah belaka berisi keimanan yang suci
di atas segalanya, yang termanifulasi
atas nama tuhan
dalam do'a yg terucap
berisi caci dan tipu daya mereka.
kotor nya dunia oleh
mahluk busuk tak terhingga
menikmati kepalsuan
dunia tak bermakna.
Dunia indah bertajuk
petaka, memaksa raga tuk
memilih
sebuah kebenaran yang
tertutup, mereka menjarah dari
setiap sudut
mencoba merusak
pikiran, bagai drama mereka
berencana
tuk memulai sebuah
peran bergerak secara masif mencoba
membunuh tuhan di atas singgasana
Wajah hina hasutan
tahta yang berbekal nama
keimanan
tertulis menjadi
catatan dalam karunia dan
kasihnya
yg membodohi akal
pikir.
Senin, 12 Februari 2018
JIWA DAN KEMATIAN "AKU INGIN MATI"
Aku duduk disini disebuah bangku taman yang hanya berteman dengan sebuah tiang lampu yang lampunya sedikit redup, bersama sebuah perasaan kelam dan kalut yang membungkam ku ini, di atas guratan-guratan luka yang merobek perban ini.
Aku mulai berfikir secara tidak normal bersama dosis obat yang mulai bekerja di otak dan syarafku mereka menjadi racun candu ku, sebuah candu agar aku bisa terlelap dalam kegelisahan, namun aku masih sadar bahwa aku ingin mati!! Sebuah keinginan yang kuat dari hatiku setelah dia ( kematian) mengusirku dari kastilnya, aku tahu bahwa dia masih selalu menatapku dibalik bayangan-bayangan dibelakangku dan dibalik lukaku yang menganga.
Aku mulai beranjak untuk sebuah asa menuju akhirat, apakah aku harus mengikat leherku dan kembali mengikatnya di atas batang pohon sebelahku dan dia (kematian) datang menyeret ruh ku dengan mata merah yang marah dengan perasaan bahagia untuk melemparku kedalam neraka, atau aku harus tetap hterus menunggunya datang dan berbisik padaku dan membiarkan ruh ku pamit dengan ragaku yang jalang dan kotor ini dan lalu dia (kematian) tersenyum padaku dan memberi sebuah kursi khusus padaku dalam kereta kematian yang akan ku tunggangi dan dia juga akan kah memberi ku sebuah tempatku untukk berteduh ketika sesampainya tiba di taman eden nanti!!
Aku mulai berfikir secara tidak normal bersama dosis obat yang mulai bekerja di otak dan syarafku mereka menjadi racun candu ku, sebuah candu agar aku bisa terlelap dalam kegelisahan, namun aku masih sadar bahwa aku ingin mati!! Sebuah keinginan yang kuat dari hatiku setelah dia ( kematian) mengusirku dari kastilnya, aku tahu bahwa dia masih selalu menatapku dibalik bayangan-bayangan dibelakangku dan dibalik lukaku yang menganga.
Aku mulai beranjak untuk sebuah asa menuju akhirat, apakah aku harus mengikat leherku dan kembali mengikatnya di atas batang pohon sebelahku dan dia (kematian) datang menyeret ruh ku dengan mata merah yang marah dengan perasaan bahagia untuk melemparku kedalam neraka, atau aku harus tetap hterus menunggunya datang dan berbisik padaku dan membiarkan ruh ku pamit dengan ragaku yang jalang dan kotor ini dan lalu dia (kematian) tersenyum padaku dan memberi sebuah kursi khusus padaku dalam kereta kematian yang akan ku tunggangi dan dia juga akan kah memberi ku sebuah tempatku untukk berteduh ketika sesampainya tiba di taman eden nanti!!
Senin, 05 Februari 2018
Aku terlempar dalam sepi dalam kekosongan jiwa ini, ini sangat menyiksa ku ketika semua orang memandang sinis padaku ketika mulut-mulut mereka terbuka dan mulai berkata kebohongan yang menuju padaku
Seorang anak muda dengan gaya amburadul seorang anak muda yang seperti tidak punya pendidikan sama sekali bahkan untuk hidup saja masih seperti tidak punya tujuan, namun aku masih harus tetap hidup
Mat dalam sepinya mencoba membungkam mulutnya menyembunyikannya dari ke3 sahabatnya yang perlahan mulai berubah dengan tuntutan untuk hidup bebas untuk mencoba melebarkan sayap-sayap kecil yang hanya bisa melingkar di dalam sebuah kotak kecil sebuah kampung dengan budaya yang sudah usang
Hari ini suara kicau burung yang saling beradu diantara ranting-ranting pohon dan Mat yang masih tertidur diatas kasur yang sudah lusuh dan dekil, dalam setengah sadarnya dia masih mengingat pahit luka semalam dan hari ini ada sebuah perasaan yang mengganjalnnya ketika sahabatnya tidak ada yang datang satupun menjemputnya, tidak seperti biasa dan perasaan Mat agak sedikit geram dengan itu "kemana mereka tidak ada yang datang membangunkan aku ketika aku sedang dalam keadaan seperti ini"
Seorang anak muda dengan gaya amburadul seorang anak muda yang seperti tidak punya pendidikan sama sekali bahkan untuk hidup saja masih seperti tidak punya tujuan, namun aku masih harus tetap hidup
Mat dalam sepinya mencoba membungkam mulutnya menyembunyikannya dari ke3 sahabatnya yang perlahan mulai berubah dengan tuntutan untuk hidup bebas untuk mencoba melebarkan sayap-sayap kecil yang hanya bisa melingkar di dalam sebuah kotak kecil sebuah kampung dengan budaya yang sudah usang
Hari ini suara kicau burung yang saling beradu diantara ranting-ranting pohon dan Mat yang masih tertidur diatas kasur yang sudah lusuh dan dekil, dalam setengah sadarnya dia masih mengingat pahit luka semalam dan hari ini ada sebuah perasaan yang mengganjalnnya ketika sahabatnya tidak ada yang datang satupun menjemputnya, tidak seperti biasa dan perasaan Mat agak sedikit geram dengan itu "kemana mereka tidak ada yang datang membangunkan aku ketika aku sedang dalam keadaan seperti ini"
Senin, 29 Januari 2018
BAG 1-8 NYATANYA GAK ROCK N ROLL
Didalam kegelapan malam mat termenung sendiri dengan gejolak batin, perasaan resah dan bimbang
dalam kekalutan otak yang tak sesuai bersama batin, ia mencari ketenangan dalam alunan nada yang bising dalam musik ROCK yang baginya itu adalah luapan perasaan yang tak bisa dia sampaikan, sebuah perasaan marah yang tak biasa ia tunjukan bahkan tak bisa ia muntahkan.
ia berteriak dalam hatinya dan menyumpal mulutnya, menelan pil pahit kehidupan akan problema sebuah keluarga!!
"entah pada siapa aku harus memuntahkan emosi-emosi ini, mencari sebuah pelukan hangat saaat angin malam mendekapku, yang menyalakan api unggun dan memberikan aku secangkir cokelat panas!! aku sungguh iri akan semua itu seperti teman-temanku, aku sungguh menginginkannya agar aku bisa bercerita atas hari ini atas semua assa yang aku ingin kan, atau mendengar mereka bercerita dan memelukku hingga aku terlelap sampai pagi dan ketika itu saat aku membuka mataku aku melihat sebuah senyum yang tertuju padaku, hingga aku bisa menjadi malaikat bukan setan seperti saat ini!
Sesaat mat yang rock n' roll pun meneteskan air mata akan sebuah keluhan dan sebuah mimpi yang sangat pahit itu datang padanya, seorang pemuda yang dengan gaya rock n' roll nya dengan gaya amburadul seperti yang tak pernah bisa menangis, meneteskan air mata saat menelan sebuah racun mimpi, namun ia tetap kuat karena sebuah genre musik sebuah genre yang bisa meluapkan dan menyalurkan amarahnya itu
Beberapa kali pernah terbesit dalam otaknya untuk mengakhiri hidupnya namun ia selalu merasakan takut apa yang akan terjadi setelah berada di dalam kematian, apakah sebuah ketenangna atau penderitaan yang akan ia dapat!
dalam kekalutan otak yang tak sesuai bersama batin, ia mencari ketenangan dalam alunan nada yang bising dalam musik ROCK yang baginya itu adalah luapan perasaan yang tak bisa dia sampaikan, sebuah perasaan marah yang tak biasa ia tunjukan bahkan tak bisa ia muntahkan.
ia berteriak dalam hatinya dan menyumpal mulutnya, menelan pil pahit kehidupan akan problema sebuah keluarga!!
"entah pada siapa aku harus memuntahkan emosi-emosi ini, mencari sebuah pelukan hangat saaat angin malam mendekapku, yang menyalakan api unggun dan memberikan aku secangkir cokelat panas!! aku sungguh iri akan semua itu seperti teman-temanku, aku sungguh menginginkannya agar aku bisa bercerita atas hari ini atas semua assa yang aku ingin kan, atau mendengar mereka bercerita dan memelukku hingga aku terlelap sampai pagi dan ketika itu saat aku membuka mataku aku melihat sebuah senyum yang tertuju padaku, hingga aku bisa menjadi malaikat bukan setan seperti saat ini!
Sesaat mat yang rock n' roll pun meneteskan air mata akan sebuah keluhan dan sebuah mimpi yang sangat pahit itu datang padanya, seorang pemuda yang dengan gaya rock n' roll nya dengan gaya amburadul seperti yang tak pernah bisa menangis, meneteskan air mata saat menelan sebuah racun mimpi, namun ia tetap kuat karena sebuah genre musik sebuah genre yang bisa meluapkan dan menyalurkan amarahnya itu
Beberapa kali pernah terbesit dalam otaknya untuk mengakhiri hidupnya namun ia selalu merasakan takut apa yang akan terjadi setelah berada di dalam kematian, apakah sebuah ketenangna atau penderitaan yang akan ia dapat!
Rabu, 17 Januari 2018
JIWA DAN KEMATIAN 2
Dia (jiwa) terus terpana.
"Apakah ini nyata! setelah aku terasing kan di dalam dimensi penuh duka,
dimensi putus asa hingga hasrat ku ingin bertemu denganmu"
"Apakah ini seperti palsu bagimu! Aku berbaik hati seperti ini karena tuhan
masih mencintaimu, jadi aku tidak bisa membawa ruh mu hari ini"
Jawab kematian.
Dan kematian beranjak dari meja makan sambil menggenggam sebotol sampanye
mereka berjalan menuju kursi di tengah ruangan yang menghadap televisi.
"Duduklah nak! nikmati sajalah ini dahulu bersamaku" sambil menuangkan
sampanye ke dalam gelas dan membakar rokok.
"Ayolah bersulang denganku, aku akan bercerita tentang manusia sepertimu"
Dan mereka pun bersulang "Clang" kepulan asap dari sebatang rokok yang
mulai mengisi ruangan itu, kematian pun kembali bicara.
"Hari itu ada sebuah bunga cantik sampai waktu yang lama namun dia tidak pernah
bisa mekar karena rumput-rumput liar terus tumbuh dan coba membunuhnya, dia
adalah gadis kecil yang menawan dia begitu cantik, bahkan kegelapan pun sepertinya
tidak akan bisa menyentuhnya"
"Apa hubungannya bunga itu denganku, bahkan dia adalah seorang gadis"
Tanya jiwa.
"Lepaskan saja dulu pisayu digenggaman mu itu" sambil kembali menghisap rokoknya.
"Dia bagai dandelion, bunga kuning yang tumbuh dipadang rumput yang luas,
namun gadis itu harus tumbuh di semak-semak ilalang dan rumput liar lainnya,
dia sama sepertimu ketika harus tumbuh di dalam dimensi yang menyakitkan.
Dia diterbangkan angin jauh dari sang ibu, dia menunggangi angin walau tidak
mengetahui kemana ia akan berhenti dan jatuh, namun ia tetap diam dalam keterasingan
itu dan tetap tegar diatas angin yang ia tunggangi, hingga sampai ia terjatuh ditengah batu
dengan tanah berbau kepedihan!! tak ada siapapun yang peduli dengannya seorang gadis
kecil yang sedang terluka, langkah-langkah kaki yang menginjak dia (dandelion)
sebuah benih bunga indah yang harus tumbuh diatas batu hanya berharap angin kembali
datang padanya dan membawa dia ke atas tanah.
"Apakah ini nyata! setelah aku terasing kan di dalam dimensi penuh duka,
dimensi putus asa hingga hasrat ku ingin bertemu denganmu"
"Apakah ini seperti palsu bagimu! Aku berbaik hati seperti ini karena tuhan
masih mencintaimu, jadi aku tidak bisa membawa ruh mu hari ini"
Jawab kematian.
Dan kematian beranjak dari meja makan sambil menggenggam sebotol sampanye
mereka berjalan menuju kursi di tengah ruangan yang menghadap televisi.
"Duduklah nak! nikmati sajalah ini dahulu bersamaku" sambil menuangkan
sampanye ke dalam gelas dan membakar rokok.
"Ayolah bersulang denganku, aku akan bercerita tentang manusia sepertimu"
Dan mereka pun bersulang "Clang" kepulan asap dari sebatang rokok yang
mulai mengisi ruangan itu, kematian pun kembali bicara.
"Hari itu ada sebuah bunga cantik sampai waktu yang lama namun dia tidak pernah
bisa mekar karena rumput-rumput liar terus tumbuh dan coba membunuhnya, dia
adalah gadis kecil yang menawan dia begitu cantik, bahkan kegelapan pun sepertinya
tidak akan bisa menyentuhnya"
"Apa hubungannya bunga itu denganku, bahkan dia adalah seorang gadis"
Tanya jiwa.
"Lepaskan saja dulu pisayu digenggaman mu itu" sambil kembali menghisap rokoknya.
"Dia bagai dandelion, bunga kuning yang tumbuh dipadang rumput yang luas,
namun gadis itu harus tumbuh di semak-semak ilalang dan rumput liar lainnya,
dia sama sepertimu ketika harus tumbuh di dalam dimensi yang menyakitkan.
Dia diterbangkan angin jauh dari sang ibu, dia menunggangi angin walau tidak
mengetahui kemana ia akan berhenti dan jatuh, namun ia tetap diam dalam keterasingan
itu dan tetap tegar diatas angin yang ia tunggangi, hingga sampai ia terjatuh ditengah batu
dengan tanah berbau kepedihan!! tak ada siapapun yang peduli dengannya seorang gadis
kecil yang sedang terluka, langkah-langkah kaki yang menginjak dia (dandelion)
sebuah benih bunga indah yang harus tumbuh diatas batu hanya berharap angin kembali
datang padanya dan membawa dia ke atas tanah.
Tanah kering berhias kerikil yg terbakar bagai bara membakar tapak kaki dari setiap langkah
yang berpijak, terik mentari membakar dan menghanguskan harapannya lemah jemari tuk
merangkul terkulai lemas tak berdaya.
Dari sebuah semak belukar tak berarti, di atas bebatuan dengan hidup yang tersingkir oleh ke
angkuhan sebuah bunga kecil terbuang dalam kehidupan memudarkan harapan yang tertanam
dihati, tetesan darah dan keringat mengalir penuh dendam dari rasa haus sebuah cinta yang
menggerogoti.
Oh tuhan tunjukan aku cinta untuk membunuh marahku, oh tuhan datangkan sebuah tangan
yang datang padaku agar rasa ini tak menjadi dosa yang membuatku menjadi monster.
Dan jiwa bertanya pada kematian.
"Apakah dia juga ingin bertemu denganmu"
"Tidak !! Dia sama sekali tak ingin menemuiku walau dia tahu bahwa aku selalu mengamatinya,
hatinya terus bertekad bahwa dia masih ingin menapaki bara api yang terus dia tapaki, hingga suatu
saat dia menemukan sebuah oasis di tengah gurun sebelum badai itu kembali yang akan menerbangkannya
kembali ke kehampaan, dia sambil tersenyum saat dihempaskan angin (badai) bahwa dia telah melihat sebuah
oasis di tengah tandus nya gurun, sebuah pembawa kehidupan baginya itu adalah taman eden di tengah
neraka
yang datang padaku agar rasa ini tak menjadi dosa yang membuatku menjadi monster.
Dan jiwa bertanya pada kematian.
"Apakah dia juga ingin bertemu denganmu"
"Tidak !! Dia sama sekali tak ingin menemuiku walau dia tahu bahwa aku selalu mengamatinya,
hatinya terus bertekad bahwa dia masih ingin menapaki bara api yang terus dia tapaki, hingga suatu
saat dia menemukan sebuah oasis di tengah gurun sebelum badai itu kembali yang akan menerbangkannya
kembali ke kehampaan, dia sambil tersenyum saat dihempaskan angin (badai) bahwa dia telah melihat sebuah
oasis di tengah tandus nya gurun, sebuah pembawa kehidupan baginya itu adalah taman eden di tengah
neraka
Rabu, 10 Januari 2018
JIWA DAN KEMATIAN
Gelap pekat membalut dalam malam
suara ku tersedak dan lemah penuh amarah
mata merah menatap penuh emosi
aku terjatuh dalam kehampaan.
Lihat mereka para malaikat yang berterbangan
terbang tebarkan pesona indahnya
musnahkanku dalam alam dimensi mimpi buruk
mereka bawaku dalam kenikmatan penuh hasrat
yang mengerikan.
Kain lusuh penuh noda terpampang menutupi
di hiasi aroma busuk nanah dari luka yg memborok
aku terkujur dan tertidur diatas ranjang kegelisahan.
Dari setiap nafasku yg penuh emosi
berikan rasa nyaman yg sekarat
membawa raga pergi ke alam neraka halusinasi
dengan segenap kata berisi kutukan
menunggu ajal datang menghampiri
Ku goreskan sebuah pisau ke setiap urat nadiku
aku silau dengan cahaya indah panorama surga
aku terjebak dalam liciknya iblis
dan aku terlalu lemah tuk berontak
aku bagaikan anak domba yg tersesat
dalam gelapnya belantara
yang berjalan sendiri terancam !!
Dalam kegelapan redup rembulan, raungan malam yang cukup jelas
suara angin pun terasa bising menghembuskan nada-nada simfoni
yang menjadi luka, dalam ruang hampa dimensi penuh duka
seorang bocah kecil yang mengejar cahaya dalam gelap malam dan badai
Dia berjalan sendiri di tengah gelapnya badai
tetesan air yang menjadi tajam, menghujam bagai ribuan jarum
yang terjatuh dari langit untuk menghujam nya.
Dalam badai dengan pandangan yang samar dia bertemu sosok
berjubah hitam yang menawan yang sangat indah berdiri diujung jalan
tepat di bawah sinar lampu jalan yang sedikit redup, sosok itu tersenyum padanya
dia berkata.
"Hey nak..... kemari lah, kamu seperti sedang merindukan sesuatu!
maukah berbincang sedikit"
Bocah itu pun berhenti berjalan dan hanya terdiam dengan luka
yang menjadi satu dengannya,perlahan dia mulai menatap muka
si sosok yang tidak dikenalnya, terlihat sebuah senyuman dibalik bayangan
dan dia kembali bertanya.
"kenapa kamu berjalan dalam badai seperti ini"
Namun si bocah masih saja terdiam.
"Oh ya sebelumnya kita harus mencari tempat, kamu pasti lelah
berjalan di tengah malam dengan badai seperti ini" tanya sosok itu sambil
tersenyum dan menyodorkan lengannya.
Sosok itu berjalan mengajak si bocah menuju sebuah pondok, dan memberi
sebuah pakaian hangat dan segelas cokelat panas, hingga si bocah larut dalam
hangat dan tertidur.
Suara kicau burung yang memulai pagi bagai paduan suara disebuah ruangan
hangat mentari pagi pun membangunkan si bocah.
"Hey... kamu sudah bangun" tanya sebauh sosok yang berada di ujung ruangan
"Terimakasih" jawab si bocah
"Akhirnya kamu bicara juga ya, Oh ya kamu belum jawab pertanyaan ku
semalam! kenapa kamu berjalan di tengah badai"
"Kamu tidak akan mengerti apa yang kurasa, jadi percuma saja aku menceritakan"
"begitukah... setelah aku menyelamatkan anak kecil yang akan mati ditengah
badai"
"Mati... aku tidak peduli akan kematian, aku pun hidup ini seperti mati"
"Bagaimana kamu bisa bicara kalo hidupmu seperti mati"
"Aku bicara tentang apa yang kurasakan, jadi percuma kamu tidak akan mengerti"
Dengan wajah tersenyum menyeringai sosok itu kembali bertanya
"Hey nak... Kenapa kau bicara tentang mati? Bagaimana jika aku adalah sosok
kematian itu sendiri"
Bocah itu menundukkan kepalanya dan menjawab
"Berarti aku sudah selesai dengan tujuanku, untuk menemukan mu"
"Begitukah... Aku terkesan bertemu manusia yang mencari kematiannya sendiri,
aku tahu apa yang kamu rasakan hingga ingin bertemu dengan kematian"
"Percuma saja kamu tidak akan tahu apa yang aku rasa berapa kali pun aku
bicara semuanya"
"Manusia memang lucu, seolah semua yang terjadi hanya padanya"
Sambil berjalan dengan tangan kiri di saku celana, si sosok itu menghadap jendela
dan kembali berkata.
"Akulah kematian, aku yang dikirim tuhan untuk membawa semua ruh yang
harus kembali padanya, jadi sekarang apa yang akan kamu lakukan nak"
Dengan sedikit kaget dan tegang sang bocah menatap kembali kepada sosok
yang menyebut dirinya kematian, dan si bocah menjawab.
"Kamu hanya membual, dan kalau pun memang kamu kematian aku tidak percaya!"
"Jadi kamu tidak percaya, baiklah nak! berdiri dekatku dan akan kutunjukkan"
Si bocah pun berdiri dan mendekati sosok itu
"Kamu lihat di luar sana! Ribuan gagak itu, apakah kamu pernah melihatnya
di dunia yang selama ini kamu tapaki"
Dan sosok itu pun membuka jas dan mengeluarkan sayap hitamnya.
"Akulah kematian itu nak, aku yang bertugas membawa ruh dan mengembalikannya
kepada tuhan"
Bocah itu kaget dan terdiam bagai patung, bahwa dia memang berbicara dengan
kematian.
"Jadi kenapa kamu ingin bertemu denganku, ketika semua manusia ingin aku
agar tidak menjemputnya" tanya sang kematian
"Ini sebenarnya terlalu sulit untuk aku katakan"
"Kenapa... bukankah kamu sudah bertemu dengan apa yang kamu cari, jadi mulailah
ceritakan nak"
"Apa kamu tahu sebuah cahaya yang melebihi cahaya matahari! Cahaya itu sudah
padam begitu lama dariku, dan setelah memasuki kegelapan semuanya menjadi
kacau menjadi duka yang setiap hari menyayat bahkan angin pun terasa pahit saat
menempel padaku! Lalu aku coba mulai berjalan mencari cahaya itu namun tidak
pernah bertemu setitik pun, orang-orang coba merangkul ku mereka semua memakai
topeng yang bernama PEDULI tapi mereka secara tidak langsung mengulitiku, hingga
aku sadar aku ingin bertemu denganmu untuk melepaskan kesakitan ini, aku pun
berlari di tengah malam badai itu" Jawab bocah tersebut.
Rintih hati menjerit penuh kepasrahan
murung wajah pucat kelam menatap tertunduk
resah jiwa menanti harapan tak pasti
aku yg terbungkam lemah tak berdaya
Senyum penuh paksaan lukai batin merusak setiap pikiran
Diderai caci dan terhina bagai babi hutan diburu anjing
berlomba melumpuhkan dan membunuhku dengan brutal
Pasangkan sebuah umpan penuh jebakkan
tersembunyi rapih ranjau di balik tanah
malaikat
palsu yg ku puji bagaikan lintah menghisap darah
dibalik punggung,bagai
belatung menggerogoti kedalam
daging dan memakan habis secara perlahan
Habiskan semua sisa hidup tanpa ada arti
aku terbuang bagai sampah yg tersangkut diantara
semak belukar penuh duri!!
Aku terperangkap dalam jebakkan bernamakan PEDULI
Dirangkul indah iblis berjubah malaikat yg meracuniku
memaksa membunuhku secara lembut penuh derita
Kemudian sang kematian pun menoleh kepada si bocah.
"Apakah kamu masih menginginkan melihat cahaya itu lagi, ataukah kamu hanya ingin
bertemu denganku" tanya kematian
"Ya aku ingin, tapi semua hanyalah angan dalam otak ku saja jadi itu tidak mungkin
aku bisa melihatnya lagi dan sekarang hanya kamu yang aku tuju dengan membawa
ruh ku kepada tuhan"
"Tidak nak! walaupun sekarang aku membawa ruh mu kepada tuhan kamu tidak akan
mendapat cintanya, kamu hanya akan tersiksa dalam dimensi hampa yang lebih kejam
dari yang selama ini kamu rasakan"
"Cinta... Kamu bilang aku tidak akan mendapatkan cintanya, bahkan sang kematian pun
memang tidak mengerti, apakah aku selama ini mendapat cintanya" jawab sang bocah
dengan nada sedikit tinggi.
"Yang tidak mengerti itu dirimu nak, kamu tahu kenapa cahaya itu bisa redup darimu,
lihatlah lagi kedalam dirimu kamu sendirilah yang memadamkannya, aku tahu bahwa
kamu masih memiliki harapan agar menemukan cahaya itu dalam hatimu! itulah cintanya
agar kamu kembali menyadarinya"
Sedikit tersentak dengan jawaban sang kematian si bocah kembali menundukkan kepalanya
ke bawah, apa yang dikatakan sang kematian memang bisa dicerna oleh otaknya, dan
si bocah pun kembali berkata.
"Yah sekarang aku sudah sadar, tapi apa yang harus aku lakukan sekarang! karna aku tahu
tidak ada yang bisa lari darimu"
Dengan sedikit senyum sang kematian menjawab.
"Kamu cukup pintar untuk seorang bocah langsung menyadari atas dosamu sendiri! oh ya
dan selama kita bicara kamu tidak mengenal kan dirimu siapa"
"Oh iya aku adalah jiwa" jawab si bocah
Kemudian kematian pun berjalan mengajak bocah tersebut menuju ruangan yang dengan
meja sudah penuh makanan dan beberapa botol whine, sang kematian yang dianggapnya bagai
monster menakutkan namun itu semua sirna dalam pikirannya, sang kematian itu sungguh
sangat mempesona berkilau bagai berlian bahkan tidak ada sama sekali sifat monsternya.
Kamis, 04 Januari 2018
TERBAKAR PAGI
Terbakar pagi dalam kesunyian yg mencekam
berpacu dalam emosi
(yang) membatasi gerakku
menatap curiga penuh dendam
yang tersayat di dasar hati
menahan penuh rintihan
menyumpal tangis dengan kutukkan.
Maki ku dengan caci mu
kutuk aku dengan sumpahmu
kutunggu belatimu yg kau sarungkan
untuk menikamku dikala lemah dan sekarat
akan kuminum racunmu
yang kau tuangkan dalam cangkirku
rasa nyaman (ini) kembali terancam
tercampur amarah tak tertahan.
Terkurung dalam sebuah batasan
hingga tak ada ruang tuk bernafas
detik menjelang sang fajar datang
merah padam yang (akan) membakarku
kau datang dengan sayap putihmu
hempaskanku kedalam api yang membakarku.
hempaskanku kedalam api yang membakarku.
Langganan:
Komentar (Atom)