Aku bercerita tentang kehampaanku, tentang kosong dan gelap penuh luka dan duka, tentang kelam yang menyelimuti pikiranku, tentang abu-abu mimpiku tentang abu-abu ingatanku.
Semua asa telah pudar terkikis sayatan dan goresan luka, jadi untuk apa aku terus menggenggam harapan yang kian terberai untuk apa terus-menerus mengejar khayalan yang jauh tak tercapai sementara yang terdekat adalah kematian.
Dia begitu indah namun semua orang mengapa menakutinya, membencinya, mengkhawatirkan dia datang, sementara dia terus-menerus berjalan berdampingan, tapi entah kenapa dia tidak datang padaku saat aku memintanya untuk membawa ruh ku, entah kenapa dia malah meninggalkanku ditepi jurang putus asa dan menyuruhku mencari kembali pijaran cahaya yang kian samar.
Dan si nenek pun menjawab "Apa kau tidak mengerti dia meninggalkanmu didunia ini, karna dia ingin kau menemukan hidupmu dan ingin kau lari menjauhinya karna kau takut dia akan merampas hidup yang telah kau impikan"
"Untuk apa? Semua itu tidak akan pernah terjadi, aku tak akan pernah menemukan jiwaku yg lama kembali, semua sudah percuma".
Nada-nada malam yang kelam mengiringi mereka berdua dengan obrolan yang saling berkutat dengan ambisi dan nasihat yang tak masuk kedalam otak jiwa.
Dua sisi
Kamis, 08 November 2018
Senin, 21 Mei 2018
JIWA DAN KEMATIAN
Diatas kegaduhanya sendiri, seketika dia melihat cahaya api dari sebuah lampu semprong dan nenek tua yang berjalan sembari membawa sebuah kantong kresek hitam kearahnya.
Dan nenek itu bertanya!
"Apa yang sedang kau lakukan disini nak? Apa kau tahu kau telah mengganggu ruh yang damai disini"
"Kemarilah anak-anakku" nenek itu berteriak sembari melemparkan isi dalam kantong kresek hitamnya, seketika gerombolan para burung hantu itu menampakkan wujudnya dari balik daun-daun dan bayang.
"Oh ya, kau terlihat berantakan sekali nak! Kemari dan ikut aku dan lalu bereskan dirimu!
Jiwa hanya terpaku dan dia tak mengerti seakan tubuhnya tak berjalan sesuai dengan otaknya, seakan tubuhnya mengikuti apa yang di perintah nenek yang misterius itu, tapi sedikit dari otaknya menolak dan berkata "siapa nenek gila ini, yang datang tengah malam hanya untuk ke sebuah pemakaman dan sok akrab denganku"
Namun secara tiba-tiba nenek itu berkata seakan membaca pikirannya!
"Kau tidak usah tegang dan berpikir aku ini gila nak! Aku tahu kau sedang mencari kematianmu yang pergi kan"
"Bagaimana kau tahu nek?"
"Aku tahu karena dia yang memberitahuku, aku selalu bertemu dengannya ketika waktu seperti ini"
"Lalu kemana dia sekarang nek"
"Tidak tahu"
Jiwa terus bertanya terus menerus namun nenek itu diam dan hanya berfokus pada lorong kegelapan dengan cahaya dari api yang goyah redup tertiup angin
Dan nenek itu bertanya!
"Apa yang sedang kau lakukan disini nak? Apa kau tahu kau telah mengganggu ruh yang damai disini"
"Kemarilah anak-anakku" nenek itu berteriak sembari melemparkan isi dalam kantong kresek hitamnya, seketika gerombolan para burung hantu itu menampakkan wujudnya dari balik daun-daun dan bayang.
"Oh ya, kau terlihat berantakan sekali nak! Kemari dan ikut aku dan lalu bereskan dirimu!
Jiwa hanya terpaku dan dia tak mengerti seakan tubuhnya tak berjalan sesuai dengan otaknya, seakan tubuhnya mengikuti apa yang di perintah nenek yang misterius itu, tapi sedikit dari otaknya menolak dan berkata "siapa nenek gila ini, yang datang tengah malam hanya untuk ke sebuah pemakaman dan sok akrab denganku"
Namun secara tiba-tiba nenek itu berkata seakan membaca pikirannya!
"Kau tidak usah tegang dan berpikir aku ini gila nak! Aku tahu kau sedang mencari kematianmu yang pergi kan"
"Bagaimana kau tahu nek?"
"Aku tahu karena dia yang memberitahuku, aku selalu bertemu dengannya ketika waktu seperti ini"
"Lalu kemana dia sekarang nek"
"Tidak tahu"
Jiwa terus bertanya terus menerus namun nenek itu diam dan hanya berfokus pada lorong kegelapan dengan cahaya dari api yang goyah redup tertiup angin
Minggu, 20 Mei 2018
JIWA DAN KEMATIAN
Ditengah sebuah lahan pemakaman dibalik kegelapan para mata itu bersinar, mereka para burung hantu sialan mengawasiku di atas pohon beringin, asam bahkan diatas pohon kamboja yg tumbuh di atas makam.
Entah apa yang mereka awasi terhadapku, atau mungkin mereka sedang mengejekku yang sedang menunggu si kematian sialan yang telah menipuku dan meninggalkan aku dalam kehampaan ini, dia menyuruhku untuk kembali menemukan sebuah cahaya itu tapi nyatanya (cahaya itu) hanya kiasan hanya fatamorgana dalam sebuah lentera minyak.
Bahkan sesaat api dalam lentera itu membakar ku, dan kini aku kembali melihat gundah sang rembulan dengan awan pucat kelam yang mulai menutupi senyumnya, kini (dia) badai frustasiku datang kembali dan aku ucapkan lantang "selamat datang" kemarilah dekap aku dan hancurkan sisa tubuhku ini, jangan kau sisakan jangan kau ampuni biarkan dia (kematian) datang menyeretku detik ini
Aku terlanjur mencintai mu wahai kematian, aku tidak mengharapkam sebuah cinta lagi dari cahaya, dari bidadari yang menghiasi taman eden (itu) aku tahu mereka hanya ilusi yang kau buat untukku.
Jiwa terus menggerutu ditengah pemakaman yang hanya berteman kegelapan dan para burung hantu yang tidak mengerti apapun.
Entah apa yang mereka awasi terhadapku, atau mungkin mereka sedang mengejekku yang sedang menunggu si kematian sialan yang telah menipuku dan meninggalkan aku dalam kehampaan ini, dia menyuruhku untuk kembali menemukan sebuah cahaya itu tapi nyatanya (cahaya itu) hanya kiasan hanya fatamorgana dalam sebuah lentera minyak.
Bahkan sesaat api dalam lentera itu membakar ku, dan kini aku kembali melihat gundah sang rembulan dengan awan pucat kelam yang mulai menutupi senyumnya, kini (dia) badai frustasiku datang kembali dan aku ucapkan lantang "selamat datang" kemarilah dekap aku dan hancurkan sisa tubuhku ini, jangan kau sisakan jangan kau ampuni biarkan dia (kematian) datang menyeretku detik ini
Aku terlanjur mencintai mu wahai kematian, aku tidak mengharapkam sebuah cinta lagi dari cahaya, dari bidadari yang menghiasi taman eden (itu) aku tahu mereka hanya ilusi yang kau buat untukku.
Jiwa terus menggerutu ditengah pemakaman yang hanya berteman kegelapan dan para burung hantu yang tidak mengerti apapun.
Minggu, 18 Maret 2018
JIWA DAN KEMATIAN
Pagi ini aku terbangun dengan kepala pusing dan aku terbangun entah berada di hari apa, yang jelas sinar mentari terasa membakar mataku yang sayu ini, lalu aku beranjak hanya beberapa centimeter saja untuk duduk dan menyalakan sebatang rokok dan coba sedikit mengingat kenapa aku tidur di antara daun-daun dan rumput.
Aku bersandar di samping sebuah pohon dan melihat seutas tali yang menggantung, menggantung terikat siap untuk di pakai menggantung diri "Hal gila macam apa ini, baru saja aku terbangun dengan suasana seperti ini" aku pun sedikit menggerutu dengan ini.
Ah sial ternyata itu tali gantungan punya ku, gara-gara para ngengat sialan itu mereka menggagalkan bunuh diriku, aku harus mencari cara lain sepertinya untuk mendapatkan tiket kematian ku (pikir ku)
Lalu aku beranjak dan berjalan sambil mencari sebuah ide agar aku bisa memberi pesan undangan kepada si kematian keparat, namun ide itu selalu sirna hanya gara-gara binatang-binatang sialan itu selalu ada saja yang menggangu rencana ku.
Aku terus berjalan sampai di sebuah ladang bunga kamboja yang tumbuh di atas tanah merah, "Oh ini sungguh sangat indah, aku ingin mempunyai taman ini di atas kuburanku sendiri hingga malam hari para burung hantu itu bernyanyi dalam kegelapan dengan mata bersinar dari pantulan cahaya purnama dan berganti menjadi paduan suara gagak saat siang tiba mereka berterbangan dan bernyanyi dan beriringan bulu-bulu hitam yang jatuh melawan angin".
Obsesi mati ini sungguh liar sungguh nikmat dari pada harus membayangkan hidup berjalan bersama para pendusta di dunia, akhirat adalah tempat kejujuran sempurna dan tempat tujuan untuk istirahat atau untuk terus menjerit merengek di neraka.
Aku bersandar di samping sebuah pohon dan melihat seutas tali yang menggantung, menggantung terikat siap untuk di pakai menggantung diri "Hal gila macam apa ini, baru saja aku terbangun dengan suasana seperti ini" aku pun sedikit menggerutu dengan ini.
Ah sial ternyata itu tali gantungan punya ku, gara-gara para ngengat sialan itu mereka menggagalkan bunuh diriku, aku harus mencari cara lain sepertinya untuk mendapatkan tiket kematian ku (pikir ku)
Lalu aku beranjak dan berjalan sambil mencari sebuah ide agar aku bisa memberi pesan undangan kepada si kematian keparat, namun ide itu selalu sirna hanya gara-gara binatang-binatang sialan itu selalu ada saja yang menggangu rencana ku.
Aku terus berjalan sampai di sebuah ladang bunga kamboja yang tumbuh di atas tanah merah, "Oh ini sungguh sangat indah, aku ingin mempunyai taman ini di atas kuburanku sendiri hingga malam hari para burung hantu itu bernyanyi dalam kegelapan dengan mata bersinar dari pantulan cahaya purnama dan berganti menjadi paduan suara gagak saat siang tiba mereka berterbangan dan bernyanyi dan beriringan bulu-bulu hitam yang jatuh melawan angin".
Obsesi mati ini sungguh liar sungguh nikmat dari pada harus membayangkan hidup berjalan bersama para pendusta di dunia, akhirat adalah tempat kejujuran sempurna dan tempat tujuan untuk istirahat atau untuk terus menjerit merengek di neraka.
Selasa, 06 Maret 2018
Dunia indah
Dunia indah bertajuk
petaka
menghasut pikiran
tuk memuja, perbudakan moral
dan tirani
menjarah dari setiap
sudut yang membawa
kesengsaraan,
seruan ajal berbisik
memanggil membawa raga ke
neraka.
Terkutuk dalam hidup
yang sesat berteman para iblis
menyesatkan,
indah malaikat yg
terbunuh mereka tertawa dan
berpesta
di atas kesengsaraan, berkumpul dalam satu
legasi
berencana
menggulingkan tahta tuhan dari
singgasana surga.
Menerima wahyu suci
sampah belaka berisi keimanan yang suci
di atas segalanya, yang termanifulasi
atas nama tuhan
dalam do'a yg terucap
berisi caci dan tipu daya mereka.
kotor nya dunia oleh
mahluk busuk tak terhingga
menikmati kepalsuan
dunia tak bermakna.
Dunia indah bertajuk
petaka, memaksa raga tuk
memilih
sebuah kebenaran yang
tertutup, mereka menjarah dari
setiap sudut
mencoba merusak
pikiran, bagai drama mereka
berencana
tuk memulai sebuah
peran bergerak secara masif mencoba
membunuh tuhan di atas singgasana
Wajah hina hasutan
tahta yang berbekal nama
keimanan
tertulis menjadi
catatan dalam karunia dan
kasihnya
yg membodohi akal
pikir.
Senin, 12 Februari 2018
JIWA DAN KEMATIAN "AKU INGIN MATI"
Aku duduk disini disebuah bangku taman yang hanya berteman dengan sebuah tiang lampu yang lampunya sedikit redup, bersama sebuah perasaan kelam dan kalut yang membungkam ku ini, di atas guratan-guratan luka yang merobek perban ini.
Aku mulai berfikir secara tidak normal bersama dosis obat yang mulai bekerja di otak dan syarafku mereka menjadi racun candu ku, sebuah candu agar aku bisa terlelap dalam kegelisahan, namun aku masih sadar bahwa aku ingin mati!! Sebuah keinginan yang kuat dari hatiku setelah dia ( kematian) mengusirku dari kastilnya, aku tahu bahwa dia masih selalu menatapku dibalik bayangan-bayangan dibelakangku dan dibalik lukaku yang menganga.
Aku mulai beranjak untuk sebuah asa menuju akhirat, apakah aku harus mengikat leherku dan kembali mengikatnya di atas batang pohon sebelahku dan dia (kematian) datang menyeret ruh ku dengan mata merah yang marah dengan perasaan bahagia untuk melemparku kedalam neraka, atau aku harus tetap hterus menunggunya datang dan berbisik padaku dan membiarkan ruh ku pamit dengan ragaku yang jalang dan kotor ini dan lalu dia (kematian) tersenyum padaku dan memberi sebuah kursi khusus padaku dalam kereta kematian yang akan ku tunggangi dan dia juga akan kah memberi ku sebuah tempatku untukk berteduh ketika sesampainya tiba di taman eden nanti!!
Aku mulai berfikir secara tidak normal bersama dosis obat yang mulai bekerja di otak dan syarafku mereka menjadi racun candu ku, sebuah candu agar aku bisa terlelap dalam kegelisahan, namun aku masih sadar bahwa aku ingin mati!! Sebuah keinginan yang kuat dari hatiku setelah dia ( kematian) mengusirku dari kastilnya, aku tahu bahwa dia masih selalu menatapku dibalik bayangan-bayangan dibelakangku dan dibalik lukaku yang menganga.
Aku mulai beranjak untuk sebuah asa menuju akhirat, apakah aku harus mengikat leherku dan kembali mengikatnya di atas batang pohon sebelahku dan dia (kematian) datang menyeret ruh ku dengan mata merah yang marah dengan perasaan bahagia untuk melemparku kedalam neraka, atau aku harus tetap hterus menunggunya datang dan berbisik padaku dan membiarkan ruh ku pamit dengan ragaku yang jalang dan kotor ini dan lalu dia (kematian) tersenyum padaku dan memberi sebuah kursi khusus padaku dalam kereta kematian yang akan ku tunggangi dan dia juga akan kah memberi ku sebuah tempatku untukk berteduh ketika sesampainya tiba di taman eden nanti!!
Senin, 05 Februari 2018
Aku terlempar dalam sepi dalam kekosongan jiwa ini, ini sangat menyiksa ku ketika semua orang memandang sinis padaku ketika mulut-mulut mereka terbuka dan mulai berkata kebohongan yang menuju padaku
Seorang anak muda dengan gaya amburadul seorang anak muda yang seperti tidak punya pendidikan sama sekali bahkan untuk hidup saja masih seperti tidak punya tujuan, namun aku masih harus tetap hidup
Mat dalam sepinya mencoba membungkam mulutnya menyembunyikannya dari ke3 sahabatnya yang perlahan mulai berubah dengan tuntutan untuk hidup bebas untuk mencoba melebarkan sayap-sayap kecil yang hanya bisa melingkar di dalam sebuah kotak kecil sebuah kampung dengan budaya yang sudah usang
Hari ini suara kicau burung yang saling beradu diantara ranting-ranting pohon dan Mat yang masih tertidur diatas kasur yang sudah lusuh dan dekil, dalam setengah sadarnya dia masih mengingat pahit luka semalam dan hari ini ada sebuah perasaan yang mengganjalnnya ketika sahabatnya tidak ada yang datang satupun menjemputnya, tidak seperti biasa dan perasaan Mat agak sedikit geram dengan itu "kemana mereka tidak ada yang datang membangunkan aku ketika aku sedang dalam keadaan seperti ini"
Seorang anak muda dengan gaya amburadul seorang anak muda yang seperti tidak punya pendidikan sama sekali bahkan untuk hidup saja masih seperti tidak punya tujuan, namun aku masih harus tetap hidup
Mat dalam sepinya mencoba membungkam mulutnya menyembunyikannya dari ke3 sahabatnya yang perlahan mulai berubah dengan tuntutan untuk hidup bebas untuk mencoba melebarkan sayap-sayap kecil yang hanya bisa melingkar di dalam sebuah kotak kecil sebuah kampung dengan budaya yang sudah usang
Hari ini suara kicau burung yang saling beradu diantara ranting-ranting pohon dan Mat yang masih tertidur diatas kasur yang sudah lusuh dan dekil, dalam setengah sadarnya dia masih mengingat pahit luka semalam dan hari ini ada sebuah perasaan yang mengganjalnnya ketika sahabatnya tidak ada yang datang satupun menjemputnya, tidak seperti biasa dan perasaan Mat agak sedikit geram dengan itu "kemana mereka tidak ada yang datang membangunkan aku ketika aku sedang dalam keadaan seperti ini"
Langganan:
Komentar (Atom)