Minggu, 18 Maret 2018

JIWA DAN KEMATIAN

 Pagi ini aku terbangun dengan kepala pusing dan aku terbangun entah berada di hari apa, yang jelas sinar mentari terasa membakar mataku yang sayu ini, lalu aku beranjak hanya beberapa centimeter saja untuk duduk dan menyalakan sebatang rokok dan coba sedikit mengingat kenapa aku tidur di antara daun-daun dan rumput.
 Aku bersandar di samping sebuah pohon dan melihat seutas tali yang menggantung, menggantung terikat siap untuk di pakai menggantung diri "Hal gila macam apa ini, baru saja aku terbangun dengan suasana seperti ini" aku pun sedikit menggerutu dengan ini.
 Ah sial ternyata itu tali gantungan punya ku, gara-gara para ngengat sialan itu mereka menggagalkan bunuh diriku, aku harus mencari cara lain sepertinya untuk mendapatkan tiket kematian ku (pikir ku)
 Lalu aku beranjak dan berjalan sambil mencari sebuah ide agar aku bisa memberi pesan undangan kepada si kematian keparat, namun ide itu selalu sirna hanya gara-gara binatang-binatang sialan itu selalu ada saja yang menggangu rencana ku.
 Aku terus berjalan sampai di sebuah ladang bunga kamboja yang tumbuh di atas tanah merah, "Oh ini sungguh sangat indah, aku ingin mempunyai taman ini di atas kuburanku sendiri hingga malam hari para burung hantu itu bernyanyi dalam kegelapan dengan mata bersinar dari pantulan cahaya purnama dan berganti menjadi paduan suara gagak saat siang tiba mereka berterbangan dan bernyanyi dan beriringan bulu-bulu hitam yang jatuh melawan angin".
 Obsesi mati ini sungguh liar sungguh nikmat dari pada harus membayangkan hidup berjalan bersama para pendusta di dunia, akhirat adalah tempat kejujuran sempurna dan tempat tujuan untuk istirahat atau untuk terus menjerit merengek di neraka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar