Minggu, 20 Mei 2018

JIWA DAN KEMATIAN

Ditengah sebuah lahan pemakaman dibalik kegelapan para mata itu bersinar, mereka para burung hantu sialan mengawasiku di atas pohon beringin, asam bahkan diatas pohon kamboja yg tumbuh di atas makam.
 Entah apa yang mereka awasi terhadapku, atau mungkin mereka sedang mengejekku yang sedang menunggu si kematian sialan yang telah menipuku dan meninggalkan aku dalam kehampaan ini, dia menyuruhku untuk kembali menemukan sebuah cahaya itu tapi nyatanya (cahaya itu) hanya kiasan hanya fatamorgana dalam sebuah lentera minyak.
 Bahkan sesaat api dalam lentera itu membakar ku, dan kini aku kembali melihat gundah sang rembulan dengan awan pucat kelam yang mulai menutupi senyumnya, kini (dia) badai frustasiku datang kembali dan aku ucapkan lantang "selamat datang" kemarilah dekap aku dan hancurkan sisa tubuhku ini, jangan kau sisakan jangan kau ampuni biarkan dia (kematian) datang menyeretku detik ini
 Aku terlanjur mencintai mu wahai kematian, aku tidak mengharapkam sebuah cinta lagi dari cahaya, dari bidadari yang menghiasi taman eden (itu) aku tahu mereka hanya ilusi yang kau buat untukku.
 Jiwa terus menggerutu ditengah pemakaman yang hanya berteman kegelapan dan para burung hantu yang tidak mengerti apapun.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar