Rabu, 17 Januari 2018

JIWA DAN KEMATIAN 2

 Dia (jiwa) terus terpana.
"Apakah ini nyata! setelah aku terasing kan di dalam dimensi penuh duka,
dimensi putus asa hingga hasrat ku ingin bertemu denganmu"
"Apakah ini seperti palsu bagimu! Aku berbaik hati seperti ini karena tuhan
masih mencintaimu, jadi aku tidak bisa membawa ruh mu hari ini"
 Jawab kematian.
 Dan kematian beranjak dari meja makan sambil menggenggam sebotol sampanye
mereka berjalan menuju kursi di tengah ruangan yang menghadap televisi.
"Duduklah nak! nikmati sajalah ini dahulu bersamaku" sambil menuangkan
sampanye ke dalam gelas dan membakar rokok.
"Ayolah bersulang denganku, aku akan bercerita tentang manusia sepertimu"
 Dan  mereka pun bersulang "Clang" kepulan asap dari sebatang rokok yang
mulai mengisi ruangan itu, kematian pun kembali bicara.
"Hari itu ada sebuah bunga cantik sampai waktu yang lama namun dia tidak pernah
bisa mekar karena rumput-rumput liar terus tumbuh dan coba membunuhnya, dia
adalah gadis kecil yang menawan dia begitu cantik, bahkan kegelapan pun sepertinya
tidak akan bisa menyentuhnya"
"Apa hubungannya bunga itu denganku, bahkan dia adalah seorang gadis"
 Tanya jiwa.
 "Lepaskan saja dulu pisayu digenggaman mu itu" sambil kembali menghisap rokoknya.
"Dia bagai dandelion, bunga kuning yang tumbuh dipadang rumput yang luas,
namun gadis itu harus tumbuh di semak-semak ilalang dan rumput liar lainnya,
dia sama sepertimu ketika harus tumbuh di dalam dimensi yang menyakitkan.
 Dia diterbangkan angin jauh dari sang ibu, dia menunggangi angin walau tidak
mengetahui kemana ia akan berhenti dan jatuh, namun ia tetap diam dalam keterasingan
itu dan tetap tegar diatas angin yang ia tunggangi, hingga sampai ia terjatuh ditengah batu
dengan tanah berbau kepedihan!! tak ada siapapun yang peduli dengannya seorang gadis
kecil yang sedang terluka, langkah-langkah kaki yang menginjak dia (dandelion)
sebuah benih bunga indah yang harus tumbuh diatas batu hanya berharap angin kembali
datang padanya dan membawa dia ke atas tanah.
 Tanah kering berhias kerikil  yg terbakar bagai bara membakar tapak kaki  dari setiap langkah 
yang berpijak, terik mentari membakar dan menghanguskan harapannya lemah jemari tuk 
merangkul terkulai lemas tak berdaya.
 Dari sebuah semak belukar tak berarti, di atas bebatuan dengan hidup yang tersingkir oleh ke 
angkuhan sebuah bunga kecil terbuang dalam kehidupan memudarkan harapan yang tertanam 
dihati, tetesan darah dan keringat mengalir penuh dendam dari rasa haus sebuah cinta yang 
menggerogoti.
 Oh tuhan tunjukan aku cinta untuk membunuh marahku, oh tuhan datangkan sebuah tangan
yang datang padaku agar rasa ini tak menjadi dosa yang membuatku menjadi monster.
 Dan jiwa bertanya pada kematian.
"Apakah dia juga ingin bertemu denganmu"
 "Tidak !! Dia sama sekali tak ingin menemuiku walau dia tahu bahwa aku selalu mengamatinya,
hatinya terus bertekad bahwa dia masih ingin menapaki bara api yang terus dia tapaki, hingga suatu
saat dia menemukan sebuah oasis di tengah gurun sebelum badai itu kembali yang akan menerbangkannya
kembali ke kehampaan, dia sambil tersenyum saat dihempaskan angin (badai) bahwa dia telah melihat sebuah
oasis di tengah tandus nya gurun, sebuah pembawa kehidupan baginya itu adalah taman eden di tengah
neraka

Tidak ada komentar:

Posting Komentar