Rabu, 10 Januari 2018

JIWA DAN KEMATIAN

 Gelap pekat membalut dalam malam
suara ku tersedak dan lemah penuh amarah 
mata merah menatap penuh emosi 
aku terjatuh dalam kehampaan.
 Lihat mereka para malaikat yang berterbangan
terbang tebarkan pesona indahnya
musnahkanku dalam alam dimensi mimpi buruk 
mereka bawaku dalam kenikmatan penuh hasrat 
yang mengerikan.
 Kain lusuh penuh noda terpampang menutupi 
di hiasi aroma busuk nanah dari luka yg memborok 
aku terkujur dan tertidur diatas ranjang kegelisahan.
 Dari setiap nafasku yg penuh emosi
berikan rasa nyaman yg sekarat 
membawa raga pergi ke alam neraka halusinasi  
dengan segenap kata berisi kutukan 
menunggu ajal datang menghampiri 
 Ku goreskan sebuah pisau ke setiap urat nadiku 
aku silau dengan cahaya indah panorama surga 
aku terjebak dalam liciknya iblis 
dan aku terlalu lemah tuk berontak 
aku bagaikan anak domba yg tersesat 
dalam gelapnya belantara 
yang berjalan sendiri terancam !!

 Dalam kegelapan redup rembulan, raungan malam yang cukup jelas
suara angin pun terasa bising menghembuskan nada-nada simfoni
yang menjadi luka, dalam ruang hampa dimensi penuh duka
seorang bocah kecil yang mengejar cahaya dalam gelap malam dan badai
 Dia berjalan sendiri di tengah gelapnya badai
tetesan air yang menjadi tajam, menghujam bagai ribuan jarum
yang terjatuh dari langit untuk menghujam nya.
 Dalam badai dengan pandangan yang samar dia bertemu sosok
berjubah hitam yang menawan yang sangat indah berdiri diujung jalan
tepat di bawah sinar lampu jalan yang sedikit redup, sosok  itu tersenyum padanya
dia berkata.
"Hey nak..... kemari lah, kamu seperti sedang merindukan sesuatu!
maukah berbincang sedikit"
 Bocah itu pun berhenti berjalan dan hanya terdiam dengan luka
yang menjadi satu dengannya,perlahan dia mulai menatap muka
si sosok yang tidak dikenalnya, terlihat sebuah senyuman dibalik bayangan
dan dia kembali bertanya.
"kenapa kamu berjalan dalam badai seperti ini"
 Namun si bocah masih saja terdiam.
"Oh ya sebelumnya kita harus mencari tempat, kamu pasti lelah
berjalan di tengah malam dengan badai seperti ini" tanya sosok itu sambil
tersenyum dan menyodorkan lengannya.
 Sosok itu berjalan mengajak si bocah menuju sebuah pondok, dan memberi
sebuah pakaian hangat dan segelas cokelat panas, hingga si bocah larut dalam
hangat dan tertidur.
 Suara kicau burung yang memulai pagi bagai paduan suara disebuah ruangan
hangat mentari pagi pun membangunkan si bocah.
"Hey... kamu sudah bangun" tanya sebauh sosok yang berada di ujung ruangan
"Terimakasih" jawab si bocah
"Akhirnya kamu bicara juga ya, Oh ya kamu belum jawab pertanyaan ku
semalam! kenapa kamu berjalan di tengah badai"
"Kamu tidak akan mengerti apa yang kurasa, jadi percuma saja aku menceritakan"
"begitukah... setelah aku menyelamatkan anak kecil yang akan mati ditengah
badai"
"Mati... aku tidak peduli akan kematian, aku pun hidup ini seperti mati"
"Bagaimana kamu bisa bicara kalo hidupmu seperti mati"
"Aku bicara tentang apa yang kurasakan, jadi percuma kamu tidak akan mengerti"
 Dengan wajah tersenyum menyeringai sosok itu kembali bertanya
"Hey nak... Kenapa kau bicara tentang mati? Bagaimana jika aku adalah sosok
kematian itu sendiri"
 Bocah itu menundukkan kepalanya dan menjawab
"Berarti aku sudah selesai dengan tujuanku, untuk menemukan mu"
"Begitukah... Aku terkesan bertemu manusia yang mencari kematiannya sendiri,
aku tahu apa yang kamu rasakan hingga ingin bertemu dengan kematian"
"Percuma saja kamu tidak akan tahu apa yang aku rasa berapa kali pun aku
bicara semuanya"
"Manusia memang lucu, seolah semua yang terjadi hanya padanya"
 Sambil berjalan dengan tangan kiri di saku celana, si sosok itu menghadap jendela
dan kembali berkata.
"Akulah kematian, aku yang dikirim tuhan untuk membawa semua ruh yang
harus kembali padanya, jadi sekarang apa yang akan kamu lakukan nak"
 Dengan sedikit kaget dan tegang sang bocah menatap kembali  kepada sosok
yang menyebut dirinya kematian, dan si bocah menjawab.
"Kamu hanya membual, dan kalau pun memang kamu kematian aku tidak percaya!"
"Jadi kamu tidak percaya, baiklah nak! berdiri dekatku dan akan kutunjukkan"
 Si bocah pun berdiri dan mendekati sosok itu
"Kamu lihat di luar sana! Ribuan gagak itu, apakah kamu pernah melihatnya
di dunia yang selama ini kamu tapaki"
 Dan sosok itu  pun membuka jas dan mengeluarkan sayap hitamnya.
"Akulah kematian itu nak, aku yang bertugas membawa ruh dan mengembalikannya
kepada tuhan"
 Bocah itu kaget dan terdiam bagai patung, bahwa dia memang berbicara dengan
kematian.
"Jadi kenapa kamu ingin bertemu denganku, ketika semua manusia ingin aku
agar tidak menjemputnya" tanya sang kematian
"Ini sebenarnya terlalu sulit untuk aku katakan"
"Kenapa... bukankah kamu sudah bertemu dengan apa yang kamu cari, jadi mulailah
ceritakan nak"
"Apa kamu tahu sebuah cahaya yang melebihi cahaya matahari! Cahaya itu sudah
padam begitu lama dariku, dan setelah memasuki kegelapan semuanya menjadi
kacau menjadi duka yang setiap hari menyayat bahkan angin pun terasa pahit saat
menempel padaku! Lalu aku coba mulai berjalan mencari cahaya itu namun tidak
pernah bertemu setitik pun, orang-orang coba merangkul ku mereka semua memakai
topeng yang bernama PEDULI tapi mereka secara tidak langsung mengulitiku, hingga
aku sadar aku ingin bertemu denganmu untuk melepaskan kesakitan ini, aku pun
berlari di tengah malam badai itu" Jawab bocah tersebut.


 Rintih hati menjerit penuh kepasrahan 
murung wajah pucat kelam menatap tertunduk 
resah jiwa menanti harapan tak pasti
aku yg terbungkam lemah tak berdaya 
 Senyum penuh paksaan lukai batin merusak setiap pikiran 
Diderai caci dan terhina bagai babi hutan diburu anjing
berlomba melumpuhkan dan membunuhku dengan brutal 
 Pasangkan sebuah umpan penuh jebakkan
tersembunyi rapih ranjau di balik tanah 
malaikat palsu yg ku puji bagaikan lintah menghisap darah 
dibalik punggung,bagai belatung menggerogoti kedalam 
daging dan memakan habis secara perlahan 
 Habiskan semua sisa hidup tanpa ada arti
aku terbuang bagai sampah yg tersangkut diantara 
semak belukar penuh duri!!
 Aku terperangkap dalam jebakkan bernamakan PEDULI 
Dirangkul indah iblis berjubah malaikat yg meracuniku
memaksa membunuhku secara lembut penuh derita

 Kemudian sang kematian pun menoleh kepada si bocah.
"Apakah kamu masih menginginkan melihat cahaya itu lagi, ataukah kamu hanya ingin
bertemu denganku" tanya kematian
"Ya aku ingin, tapi semua hanyalah angan dalam otak ku saja jadi itu tidak mungkin
aku bisa melihatnya lagi dan sekarang hanya kamu yang aku tuju dengan membawa
ruh ku kepada tuhan"
"Tidak nak! walaupun sekarang aku membawa ruh mu kepada tuhan kamu tidak akan
mendapat cintanya, kamu hanya akan tersiksa dalam dimensi hampa yang lebih kejam
dari yang selama ini kamu rasakan"
"Cinta... Kamu bilang aku tidak akan mendapatkan cintanya, bahkan sang kematian pun
memang tidak mengerti, apakah aku selama ini mendapat cintanya" jawab sang bocah
dengan nada sedikit tinggi.
"Yang tidak mengerti itu dirimu nak, kamu tahu kenapa cahaya itu bisa redup darimu,
lihatlah lagi kedalam dirimu kamu sendirilah yang memadamkannya, aku tahu bahwa
kamu masih memiliki harapan agar menemukan cahaya itu dalam hatimu! itulah cintanya
agar kamu kembali menyadarinya"
 Sedikit tersentak dengan jawaban sang kematian si bocah kembali menundukkan kepalanya
ke bawah, apa yang dikatakan sang kematian memang bisa dicerna oleh otaknya, dan
si bocah pun kembali berkata.
"Yah sekarang aku sudah sadar, tapi apa yang harus aku lakukan sekarang! karna aku tahu
tidak ada yang bisa lari darimu"
 Dengan sedikit senyum sang kematian menjawab.
"Kamu cukup pintar untuk seorang bocah langsung menyadari atas dosamu sendiri! oh ya
dan selama kita bicara kamu tidak mengenal kan dirimu siapa"
"Oh iya aku adalah jiwa" jawab si bocah
 Kemudian kematian pun berjalan mengajak bocah tersebut menuju ruangan yang dengan
meja sudah penuh makanan dan beberapa botol whine, sang kematian yang dianggapnya bagai
monster menakutkan namun itu semua sirna dalam pikirannya, sang kematian itu sungguh
sangat mempesona berkilau bagai berlian bahkan tidak ada sama sekali sifat monsternya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar